Minggu, 01 Desember 2013

Indonesia Rawan Penyakit Ikan

Kementerian Kelautan dan Perikanan memperketat pengawasan benih ikan, ikan, dan pakan biologi untuk mengantisipasi meluasnya penyakit sindrom mati awal pada udang. Wabah ini meluas di Amerika Latin serta sebagian negara Asia bagian selatan dan tenggara.
”Kami meningkatkan pengawasan, terutama di pintu-pintu pelabuhan impor. Kami minta petambak dan pembudidaya berhati-hati. Penyakit early mortality syndrome (EMS) sangat mematikan,” kata Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan, Selasa (26/11/2013), seusai membuka Seminar Nasional Penyakit Ikan Karantina di Jakarta.
Penyakit EMS juga dikenal dengan acute hepatopancreatic necrosis syndrome (AHPNS) disebabkan oleh bakteri. Meski sangat ganas dan mampu membunuh 100 persen udang berumur 20-30 hari, penyakit ini tak menular pada manusia.
Kasus ini pertama kali dilaporkan China tahun 2009, disusul Vietnam (2010), Malaysia (2011), Thailand (2012), Meksiko, dan India. ”Pencegahan kami lakukan dengan menolak udang impor dari negara-negara itu,” kata Sharif.
Serangan bakteri EMS merugikan Vietnam hingga Rp 1 triliun. Di Thailand, pemerintah dan petambak terpaksa mengeringkan 90 persen tambak untuk mematikan bakteri. Di Malaysia, EMS menurunkan 30.000 ton (40 persen) produksi normal.
Tahun 2013, negara-negara terinfeksi mengalami penurunan ekspor udang sangat signifikan. Thailand turun 23,8 persen, Vietnam 19,7 persen, dan China 28,4 persen.
Di Indonesia, kata Sharif, ekspor udang diperkirakan akan meningkat karena tak mengalami penolakan akibat EMS. Transaksi ekspor udang hingga kuartal kedua 2013 mencapai 800 juta dollar AS. Diperkirakan 1,3 miliar dollar AS hingga akhir tahun.
”Selain tak kena wabah, pengusaha tambak sedang menikmati harga udang sangat tinggi. Tahun 2012 harganya Rp 50.000 per kilogram, saat ini Rp 105.000 per kilogram,” katanya.
Narmoko Prasmadji, Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan, menjelaskan, penularan EMS bisa dibawa induk, bibit, dan pakan. ”Semua impor yang berpotensi membawa penularan kami awasi. Kemarin kami tolak impor dari Malaysia,” katanya.
BKIPM menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan petugas perikanan lain untuk menangkal penularan bakteri. Terkait banyaknya pintu masuk ilegal, ia akan menjalin kerja sama dengan kepolisian.
Arif Satria, pakar politik ekologi Institut Pertanian Bogor, mengatakan, penguatan petugas dan teknologi di Balai Karantina perlu dilakukan. Deteksi mikroorganisme pada ikan atau pakan hampir tidak mungkin dilakukan dengan mata telanjang.
”Selain udang, komoditas rumput laut yang diusahakan masyarakat kecil rawan penyakit
seperti ais-ais (bintik putih semacam cacar). Padahal, rumput laut juga produk andalan kelautan yang sedang booming,” katanya.
Penyakit lain seperti infectious myonecris virus (IMNV), koi herpes virus (KHV), taura syndrome virus (TSV), Ichthyophtirius multifiliis, Lernaea cyprinacea, white spot syndrome virus (WSSV). Penyakit IMNV pernah menghancurkan budidaya udang vaname di Situbondo, Jawa Timur, pada tahun 2006.
Tahun 2002, penyakit KHV mematikan 95 persen populasi ikan mas dan koi di Indonesia.(Sumber : Kompas)

Selasa, 05 November 2013

Pernah Terkenal, KKP Bangkitkan Lagi Udang Sumbawa

Oleh Syahid Latif
Pernah Terkenal, KKP Bangkitkan Lagi Udang Sumbawa

Liputan6.com, Sumbawa : Pemerintah mulai membangun kembali kejayaan ekonomi yang selama ini telah membawa Indonesia ke dunia internasional. Salah satu kejayaan yamg coba dibangkitkan adalah budidaya udang di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Tangkap, Slamet Soekardjo mengatakan NTB khususnya Sumbawa pernah menggapai
kejayaan di bidang tambak udang.
"Sumbawa merupakan sentra udang yang pernah sukses pada tahun 2007-an," ujar Slamet dalam sambutan Tebar Perdana Benih Udang Vaname
di Utan, Sumbawa, NTB, Sabtu (19/10/2013).
Di era kejayaannya, lanjut Slamet, produktivitas udang di Sumbawa cukup tinggi. Bahkan produksi udang dari wilayah ini bisa menyumbangkan sekitar 20%. Produksi udang dari salah satu kabupaten di NTB ini bahkan pernah setara dengan kesuksesan Jawa Timur.
Sayangnya, lanjut Slamet, usaha udang di Sumbawa justru mengalami pasang surut. Data KKP menunjukan dari 10.375 hektare (Ha) lahan tambak, hanya sekitar 20% atau sekitar 2.199 Ha. Artinya sebanyak 8.000 Ha yang belum beroperasi.
KKP juga melaporkan luas lahan insentif yang beroperasi saat ini mencapai 750 Ha namun hanya 250 Ha atau 30% yang beroperasi. Sementara
lahan tradisional sekitar 1.500 Ha.
Guna menghidupkan kembali kejayaan budidaya udang di Sumbawa dan daerah lain di Indonesia, KKP menegaskan akan mengintensifkan program
tambak percontohan (Demfarm).
Untuk tahun ini, KKP menargetkan bisa membangun 540 Ha Demfarm di 27 provinsi. Sebagai ilustrasi, dengan pemberian input sarana produksi
untuk standar teknologi intensif dengan plastic mulsa, udang yang diproduksi bisa mencapai 8.100 ton.
Dari produksi tersebut, nilai yang bisa dihasilkan mencapai Rp 648 miliar per musim atau setara Rp 1,94 triliun per tahun dengan cara
panen parsial.
"Dengan adanya kegiatan denfarm pada tambak yang idle dan produktivitasnya rendah ini diharapkan bisa memicu bangkitnya kembali
usaha budidaya tambak di Indonesia," ujar Slamet. (Shd)

Miris, Cuma 10% Budidaya Ikan yang Beroperasi

Miris, Cuma 10% Budidaya Ikan yang Beroperasi
Oleh Syahid Latif

Liputan6.com, Sumbawa : Laporan konsultan internasional, Mckinsey Institute, menyebutkan perikanan merupakan sektor bisnis yang bakal membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pasa 2030. Sayang kenyataan di lapangan saat ini berbicara lain.

"Mungkin hanya puluhan ribu saja yang terpakai," kata Cicip dalam sambutan kegiatan Tebar Perdana Benih Udang Vaname di Utan, Sumbawa, NTB, Sabtu (19/10/2013).Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengungkapkan dari ratusan ribu hektare (Ha) lahan budidaya ikan yang ada, hanya 10% yang beroperasi.
Cicip menyatakan tren penurunan produksi ikan khususnya perikanan tangkap nasional setidaknya sudah terlihat dalam lima tahun terakhir. Hal ini terjadi lantaran masalah iklim, perubahan cuaca serta bencana gempa bumi yang mengubah tatanan masyarakat dan geografis.
Namun penurunan produksi ikan ini memang tak hanya dirasakan Indonesia.

Upaya Pembenahan
Melihat kondisi yang terjadi, KKP mengaku telah melakukan berbagai cara guna meningkatkan produksi ikan nasional. Salah satunya adalah menjadikan bisnis perikanan dalam kategori sektor bisnis yang risikonya bisa dihitung.
"Dengan adanya calculated risk, kini banyak pengusaha yang kembali masuk dan perbankan yang menyalurkan kredit," ungkap Cicip.
Tak hanya itu, pemerintah juga makin mengintensifkan program revitalisasi tambak guna menggenjot produktivitas.
Pada kesempatan kali ini, KKP sempat menyerahkan bantuan senilai Rp 21,9 miliar untuk mendukung revitalisasi perikanan di NTB. Dana tersebut disalurkan ke Pemerintah Provinsi NTB senilai Rp 13,5 miliar, Pemkab Sumbawa Rp 4,58 miliar, dan Bima Rp 3 miliar. (Shd)

Senin, 04 November 2013

NEWSLATTER VOL. 1


Genjot Pemasaran Ikan Hias, Indonesia Ikuti Pameran Internasional


Indonesia mengikuti pameran internasional ikan hias “Aquarama” 2013 di Singapura, yang diikuti berbagai negara di dunia. “Indonesia membuka paviliun yang diikuti oleh perwakilan dari 13 perusahaan dan asosiasi ikan hias,” kata Nurmalia Ulfa, Direktur PT Maramaquatic, salah satu wakil perusahaan Indonesia dalam pameran itu, Minggu (2/6) malam. Peserta pameran dari Indonesia bergabung melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka Paviliun Indonesia di arena tersebut. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sharif Cicip Sutardjo sendiri juga hadir pada pameran tersebut. Ia menjelaskan bahwa perwakilan perusahaan dan asosiasi ikan hias yang mengikuti pameran itu memiliki spesialis ikan dan tanaman hias, baik air tawar, air laut, corals, mapun ikan endemik Indonesia, seperti arowana dan botia.

Nurmalia Ulfa mengharapkan keikutsertaan Indonesia di dalam even itu bisa meningkatkan penetrasi pasar, dan memperkenalkan langsung kepada end-users sehingga memotong rantai perdagangan melalui Singapura. “Dengan demikian, dapat meningkatkan target ekpor hasil perikanan Indonesia sebesar total 5 miliar dolar AS,” katanya. Sementara itu, salah satu delegasi peserta Indonesia lainnya Arie Prabawa menambahkan sejak tahun 1985 nilai perdagangan internasional dalam ekpor ikan hias (ornamental fish) telah meningkat pada rata-rata pertumbuhan sekitar 14 per tahun. “Negara berkembang membukukan sekitar dua per tiga dari total nilai ekspor dunia,” katanya. Menurut data terakhir FAO (Food and Agriculture Organization), statistik dunia untuk ekspor dan impor ikan hias telah meningkat secara signifikan.

 Menurut data FAO, pada tahun 2009 nilai ekspor perikanan hias mencapai USD59,94 juta. Sementara itu, Indonesia baru berada di peringkat kelima perdagangan ikan hias dunia. “Padahal, sebanyak 70 persen varietas ikan hias di Singapura adalah berasal dari Indonesia,” ucap Arie Prabawa yang juga Direktur Eksekutif Asosisasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI). Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto pada pertengahan April 2013 menyebutkan bahwa Indonesia masih menduduki peringkat kelima eksportir ikan hias dunia setelah Ceko, Thailand, Jepang, dan Singapura Kegiatan “Aquarama” 2013 dibuka sejak 30 Mei dan ditutup pada tanggal 2 Juni 2013 dipusatkan di aula B dan C di Expo and Convention Centre (Marina Bay Sands). Sands Expo and Convention Center adalah tempat pameran dan pertemuan yang terbesar di Singapura, yakni lebih dari 120.000 m2, yang dilengkapi dengan hotel terbesar. (Sumber : Aktual)

AEC 2015, Indonesia Benahi Mutu Produk Perikanan

TEMPO.COJakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja mengatakan, bulan mutu pada November ini akan menjadi momentum bagi Indonesia untuk berbenah dalam peningkatan mutu produk perikanan. Apalagi, menjelang ASEAN Economic Community 2015, tantangan akan semakin besar. "Mutu harus menjadi prioritas utama," katanya di Jakarta, Sabtu, 19 Oktober 2013.


Menurut dia, ke depan, negara-negara tujuan ekspor akan semakin ketat dalam menetapkan standar mutu. "Konsumen akan lebih selektif." Dalam hal ini, mutu akan menjadi hal yang utama dalam meningkatkan daya saing.


Selain itu, Syarif menambahkan, peningkatan mutu pun penting untuk menghadapi serangan impor produk perikanan memasukipasar bebas ASEAN. "Dengan peningkatan mutu, Indonesia bisa meningkatkan daya saing." Dengan demikian, masuknya produk impor tidak akan terlalu besar.


Terkait hal tersebut, menurut Sjarief, pihaknya tengah berupaya untuk mensosialisasikan mengenai pentingnya peningkatan mutu. “Stakeholder perikanan harus punya pemahaman,” ujarnya. Ia akan melakukan upaya kampanye dan penyebaran informasi mengenai produk perikanan dan olahan yang aman dan sehat konsumsi.


Menurut catatan KKP, pada 2013, jumlah produk olahan hasil perikanan telah mencapai 4,83 juta ton atau meningkat 0,26 juta ton dari tahun sebelumnya. Di samping itu, produk olahan ikan mampu meningkatkan nilai ekspor dari US$ 3,52 miliar naik menjadi US$ 3,93 miliar.


Terkait hal ini, kata Sjarief, pihaknya telah menetapkan program percepatan industrialisasi perikanan. Bukan hanya untuk tujuan peningkatan mutu, tapi juga peningkatan nilai tambah produk perikanan untuk memperkuat daya saing.


NINIS CHAIRUNNISA
from tempo.co