Selasa, 05 November 2013

Pernah Terkenal, KKP Bangkitkan Lagi Udang Sumbawa

Oleh Syahid Latif
Pernah Terkenal, KKP Bangkitkan Lagi Udang Sumbawa

Liputan6.com, Sumbawa : Pemerintah mulai membangun kembali kejayaan ekonomi yang selama ini telah membawa Indonesia ke dunia internasional. Salah satu kejayaan yamg coba dibangkitkan adalah budidaya udang di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Tangkap, Slamet Soekardjo mengatakan NTB khususnya Sumbawa pernah menggapai
kejayaan di bidang tambak udang.
"Sumbawa merupakan sentra udang yang pernah sukses pada tahun 2007-an," ujar Slamet dalam sambutan Tebar Perdana Benih Udang Vaname
di Utan, Sumbawa, NTB, Sabtu (19/10/2013).
Di era kejayaannya, lanjut Slamet, produktivitas udang di Sumbawa cukup tinggi. Bahkan produksi udang dari wilayah ini bisa menyumbangkan sekitar 20%. Produksi udang dari salah satu kabupaten di NTB ini bahkan pernah setara dengan kesuksesan Jawa Timur.
Sayangnya, lanjut Slamet, usaha udang di Sumbawa justru mengalami pasang surut. Data KKP menunjukan dari 10.375 hektare (Ha) lahan tambak, hanya sekitar 20% atau sekitar 2.199 Ha. Artinya sebanyak 8.000 Ha yang belum beroperasi.
KKP juga melaporkan luas lahan insentif yang beroperasi saat ini mencapai 750 Ha namun hanya 250 Ha atau 30% yang beroperasi. Sementara
lahan tradisional sekitar 1.500 Ha.
Guna menghidupkan kembali kejayaan budidaya udang di Sumbawa dan daerah lain di Indonesia, KKP menegaskan akan mengintensifkan program
tambak percontohan (Demfarm).
Untuk tahun ini, KKP menargetkan bisa membangun 540 Ha Demfarm di 27 provinsi. Sebagai ilustrasi, dengan pemberian input sarana produksi
untuk standar teknologi intensif dengan plastic mulsa, udang yang diproduksi bisa mencapai 8.100 ton.
Dari produksi tersebut, nilai yang bisa dihasilkan mencapai Rp 648 miliar per musim atau setara Rp 1,94 triliun per tahun dengan cara
panen parsial.
"Dengan adanya kegiatan denfarm pada tambak yang idle dan produktivitasnya rendah ini diharapkan bisa memicu bangkitnya kembali
usaha budidaya tambak di Indonesia," ujar Slamet. (Shd)

Miris, Cuma 10% Budidaya Ikan yang Beroperasi

Miris, Cuma 10% Budidaya Ikan yang Beroperasi
Oleh Syahid Latif

Liputan6.com, Sumbawa : Laporan konsultan internasional, Mckinsey Institute, menyebutkan perikanan merupakan sektor bisnis yang bakal membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pasa 2030. Sayang kenyataan di lapangan saat ini berbicara lain.

"Mungkin hanya puluhan ribu saja yang terpakai," kata Cicip dalam sambutan kegiatan Tebar Perdana Benih Udang Vaname di Utan, Sumbawa, NTB, Sabtu (19/10/2013).Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengungkapkan dari ratusan ribu hektare (Ha) lahan budidaya ikan yang ada, hanya 10% yang beroperasi.
Cicip menyatakan tren penurunan produksi ikan khususnya perikanan tangkap nasional setidaknya sudah terlihat dalam lima tahun terakhir. Hal ini terjadi lantaran masalah iklim, perubahan cuaca serta bencana gempa bumi yang mengubah tatanan masyarakat dan geografis.
Namun penurunan produksi ikan ini memang tak hanya dirasakan Indonesia.

Upaya Pembenahan
Melihat kondisi yang terjadi, KKP mengaku telah melakukan berbagai cara guna meningkatkan produksi ikan nasional. Salah satunya adalah menjadikan bisnis perikanan dalam kategori sektor bisnis yang risikonya bisa dihitung.
"Dengan adanya calculated risk, kini banyak pengusaha yang kembali masuk dan perbankan yang menyalurkan kredit," ungkap Cicip.
Tak hanya itu, pemerintah juga makin mengintensifkan program revitalisasi tambak guna menggenjot produktivitas.
Pada kesempatan kali ini, KKP sempat menyerahkan bantuan senilai Rp 21,9 miliar untuk mendukung revitalisasi perikanan di NTB. Dana tersebut disalurkan ke Pemerintah Provinsi NTB senilai Rp 13,5 miliar, Pemkab Sumbawa Rp 4,58 miliar, dan Bima Rp 3 miliar. (Shd)

Senin, 04 November 2013

NEWSLATTER VOL. 1


Genjot Pemasaran Ikan Hias, Indonesia Ikuti Pameran Internasional


Indonesia mengikuti pameran internasional ikan hias “Aquarama” 2013 di Singapura, yang diikuti berbagai negara di dunia. “Indonesia membuka paviliun yang diikuti oleh perwakilan dari 13 perusahaan dan asosiasi ikan hias,” kata Nurmalia Ulfa, Direktur PT Maramaquatic, salah satu wakil perusahaan Indonesia dalam pameran itu, Minggu (2/6) malam. Peserta pameran dari Indonesia bergabung melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membuka Paviliun Indonesia di arena tersebut. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sharif Cicip Sutardjo sendiri juga hadir pada pameran tersebut. Ia menjelaskan bahwa perwakilan perusahaan dan asosiasi ikan hias yang mengikuti pameran itu memiliki spesialis ikan dan tanaman hias, baik air tawar, air laut, corals, mapun ikan endemik Indonesia, seperti arowana dan botia.

Nurmalia Ulfa mengharapkan keikutsertaan Indonesia di dalam even itu bisa meningkatkan penetrasi pasar, dan memperkenalkan langsung kepada end-users sehingga memotong rantai perdagangan melalui Singapura. “Dengan demikian, dapat meningkatkan target ekpor hasil perikanan Indonesia sebesar total 5 miliar dolar AS,” katanya. Sementara itu, salah satu delegasi peserta Indonesia lainnya Arie Prabawa menambahkan sejak tahun 1985 nilai perdagangan internasional dalam ekpor ikan hias (ornamental fish) telah meningkat pada rata-rata pertumbuhan sekitar 14 per tahun. “Negara berkembang membukukan sekitar dua per tiga dari total nilai ekspor dunia,” katanya. Menurut data terakhir FAO (Food and Agriculture Organization), statistik dunia untuk ekspor dan impor ikan hias telah meningkat secara signifikan.

 Menurut data FAO, pada tahun 2009 nilai ekspor perikanan hias mencapai USD59,94 juta. Sementara itu, Indonesia baru berada di peringkat kelima perdagangan ikan hias dunia. “Padahal, sebanyak 70 persen varietas ikan hias di Singapura adalah berasal dari Indonesia,” ucap Arie Prabawa yang juga Direktur Eksekutif Asosisasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI). Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto pada pertengahan April 2013 menyebutkan bahwa Indonesia masih menduduki peringkat kelima eksportir ikan hias dunia setelah Ceko, Thailand, Jepang, dan Singapura Kegiatan “Aquarama” 2013 dibuka sejak 30 Mei dan ditutup pada tanggal 2 Juni 2013 dipusatkan di aula B dan C di Expo and Convention Centre (Marina Bay Sands). Sands Expo and Convention Center adalah tempat pameran dan pertemuan yang terbesar di Singapura, yakni lebih dari 120.000 m2, yang dilengkapi dengan hotel terbesar. (Sumber : Aktual)

AEC 2015, Indonesia Benahi Mutu Produk Perikanan

TEMPO.COJakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja mengatakan, bulan mutu pada November ini akan menjadi momentum bagi Indonesia untuk berbenah dalam peningkatan mutu produk perikanan. Apalagi, menjelang ASEAN Economic Community 2015, tantangan akan semakin besar. "Mutu harus menjadi prioritas utama," katanya di Jakarta, Sabtu, 19 Oktober 2013.


Menurut dia, ke depan, negara-negara tujuan ekspor akan semakin ketat dalam menetapkan standar mutu. "Konsumen akan lebih selektif." Dalam hal ini, mutu akan menjadi hal yang utama dalam meningkatkan daya saing.


Selain itu, Syarif menambahkan, peningkatan mutu pun penting untuk menghadapi serangan impor produk perikanan memasukipasar bebas ASEAN. "Dengan peningkatan mutu, Indonesia bisa meningkatkan daya saing." Dengan demikian, masuknya produk impor tidak akan terlalu besar.


Terkait hal tersebut, menurut Sjarief, pihaknya tengah berupaya untuk mensosialisasikan mengenai pentingnya peningkatan mutu. “Stakeholder perikanan harus punya pemahaman,” ujarnya. Ia akan melakukan upaya kampanye dan penyebaran informasi mengenai produk perikanan dan olahan yang aman dan sehat konsumsi.


Menurut catatan KKP, pada 2013, jumlah produk olahan hasil perikanan telah mencapai 4,83 juta ton atau meningkat 0,26 juta ton dari tahun sebelumnya. Di samping itu, produk olahan ikan mampu meningkatkan nilai ekspor dari US$ 3,52 miliar naik menjadi US$ 3,93 miliar.


Terkait hal ini, kata Sjarief, pihaknya telah menetapkan program percepatan industrialisasi perikanan. Bukan hanya untuk tujuan peningkatan mutu, tapi juga peningkatan nilai tambah produk perikanan untuk memperkuat daya saing.


NINIS CHAIRUNNISA
from tempo.co

Dies Natalis VII

SALAM BAHARI!!!!

Dengan Momentum Dies natalis
HIMAPIKA VII Kita Kukuhkan Tali 
Persaudaraan dan Silaturrahmi.
Bersama HIMAPIKA kita BISA!!! 

Dies Natalis HIMAPIKA yang ke-7 Akan Segera dimulai,,
ada Pertandingan Futsal (11-14 November 2013) dan Juga Lomba Membuat Karya Ilmiah,
Semua Angkatan dan Alumni Wajib Ikuti ini,,
So, Daftarkan Segera Team mu dan Bangga kan Angkatan mu Guys,,, :)

MEMOTRET PELAKSANAAN MUBES YANG BURAM

Oleh : @RidhwanBatutah
“Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku.
Ia berkembang dengan amal, dan amal itu adalah amalku”
(Bung Hatta)

Tulisan sederhana yang sedang Anda baca ini tidak akan lahir tanpa tanggung jawab moral saya terhadap kemajuan Program Studi budidaya Perairan tercinta. Ada banyak cara yang bisa ditempuh oleh setiap orang untuk berkontribusi dalam kemajuan almamaternya, tergantung pada kemauan yang dimiliki setiap orang. Ketika banyak orang mulai berani dan pintar berbicara dan saya tidak didengarkan lagi. Saya memilih menulis, karena yang saya punya, yang bisa saya berikan kepada Program Studi dan rekan-rekan Mahasiswa adalah pemikiran. Saya tidak mempunyai kelebihan finansial untuk disumbangkan kepada banyak orang. Toh, berbagi pemikiran tidak kalah penting dibandingkan berbagi materi.

 Musyawarah luar biasa adalah hajat besar yang akhirnya terselenggara beberapa hari kemarin. Meski dalam pelaksanaanya masih jauh dari harapan sebagian anggota. Terlaksananya MUBES dengan catatan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota tetap. Nyatanya yang hadir di bawah standar, yang artinya tidak mencapai 2/3 dari anggota kepengurusan. Beberapa Mahasiswa sangat menyayangkan hal ini dengan tidak meratanya informasi atau undangan baik secara tertulis atau pun lisan. Bukan saja terkait penyebaran informasi yang menjadi masalah, pelaksanaan MUBES sendiri yang sebenarnya harus dilaksanakan pada bulan September, beberapa angkatan hanya diwakili oleh beberapa orang terlihat dari angkatan 2011 yang hanya dihadiri oleh 4 orang, padahal periode ini adalah  jatah bagi angkatan 2011 untuk memegang saham kedaulatan di himpunan. Bahkan dari anggota kepengurusan lama dan Dewan Pertimbangan Organisasi tidak kelihatan batang hidungnya. Beberapa peserta MUBES hilir-mudik keluar masuk ruangan tidak jelas. Belum lagi beberapa peserta MUBES seolah tidak memiliki akal untuk berfikir dengan seenak udelnya menyetujui setiap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga tanpa ada justifikasi yang jelas. Hanya pemilihan ketua baru himpunan-lah yang setidaknya membuat pengurus lama bernafas panjang dan sebagian peserta MUBES merasa senang dan terharu. Mungkin bagi sebagian peserta melihat event tersebut telah menghasilkan sesuatu yang besar sesuai dengan nama Musyawarah Besar atau telah menciptakan sejarah baru bagi Program Studi Budidaya Perairan. Akan tetapi semua itu, ternyata kita hanya mampu untuk berkhayal tentang kepengurusan yang tidak jelas citranya. Bagaimana tidak, dalam proses Musyawarah Besar yang notabene besar hanya mampu melahirkan pemikir-pemikir kerdil yang hanya ingin mempertahankan dan memperkenalkan kehebatan diri sendiri tanpa mau sedikit mendengar, merenungkan serta meresapi apa sebetulnya hakikat Musyawarah Besar sehingga kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan. Tetapi yang terjadi adalah upaya mengukuhkan budaya ‘menjilat’ atau di dalam bahasa Samawa “malela”, sehingga tidak banyak dari peserta yang kecewa terhadap pelaksanaannya karena tidak sesuai dengan nilai-nilai etika keorganisasian. Inilah suasana yang terjadi di`dalam proses Musyawarah Besar. Tentu semua ini membuat persendian kita kecewa.

Selamat Datang

Yooo,,Salam Bahari!!!

Ini adalah Blog HIMAPIKA UNRAM,
Semua Berita dan Info Seputar Perikanan dan Himpunan ada di Sini,
So,,Update Terus ya Blog ini,,,  :)